Seriosa
Lied German adalah komposisi musik vokal German, memiliki tiga bentuk lagu: strophic, through-composed dan songcycle. Masuk ke Indonesia, dibawa oleh Bangsa Belanda pada abad16. Keberadaannya memberi inspirasi bagi para pencipta lagu bangsa Indonesia, sehingga berpengaruh terhadap lahirnya lagu seriosa. Lagu seriosa adalah komposisi musik vokal Indonesia, sebagai adaptasi lied German. Lahir di Indonesia tahun 1930-an, dipelopori oleh Cornel Simanjuntak. Lagu seriosa mengandung nuansa musik Nusantara, dan idiom musik Indonesia. Sarat dengan muatan budaya, historis, dan nilai nasionalisme Indonesia. Karenanya menjadi lagu khas Indonesia,dan sebuah genre musik di Indonesia.
Perkembangan
Seriosa Di Indonesia
Pada tahun 1960-an, tiga jenis musik digelar
dalam Pemilihan Bintang Radio (kemudian Pemilihan Bintang Radio dan Televisi).
Ketiga jenis musik itu, hiburan, keroncong, dan musik seriosa. Begitu pula
dengan urutan jumlah peminat untuk menjadi peserta pemilihan bintang radio dan
televisi. Hiburan di peringkat pertama, keroncong di tangga kedua, dan seriosa
di urutan buncit.
Mengapa hal itu terjadi. Salah satu penyebabnya, kemungkinan besar adalah tingkat kesulitan yang tinggi dalam membawakan musik seriosa. Harus serius. Memang, jenis musik lainnya pun memerlukan keseriusan yang tinggi, tetapi musik seriosa lain. Pertama, komposisi musik seriosa, yang konon "meniru" lieder-nya tokoh musik zaman klasik, Franz Schubert, antara musik dan syairnya menyatu padu. Dari intro sampai ekstro, digubah sebagai sebuah kesatuan. Interlude dipasang dengan sengaja, terencana, dan ada maknanya.
Kita mengenal tokoh-tokoh penggubah musik seriosa hanya beberapa gelintir. Bisa kita sebut, Cornel Simanjuntak, Binsar Sitompul, Mochtar Embut, AJ Soedjasmin, dan yang baru saja "surut", meninggal dunia, FX Soetopo. Lepas dari itu, bisa dibilang tak ada lagi generasi penerus dalam dunia penciptaan musik seriosa. Dengan penuh harap, kita menunggu hadirnya komponis musik seriosa.
Kalau kita menyimak musik seriosa, tampaklah umumnya, pemusik bekerja sama dengan penyair. Penyair-penyair yang karyanya "dicomot" untuk dijadikan nyanyian seriosa cukup banyak. Di antaranya: Sanusi Pane, Usmar Ismail, JE Tatengkeng, Chairil Anwar, dan WS Rendra. Mengapa begitu. Mungkin para pemusik "tahu diri" bahwa lahannya berbeda. Namun, mereka bisa bekerja sama.
Mengapa hal itu terjadi. Salah satu penyebabnya, kemungkinan besar adalah tingkat kesulitan yang tinggi dalam membawakan musik seriosa. Harus serius. Memang, jenis musik lainnya pun memerlukan keseriusan yang tinggi, tetapi musik seriosa lain. Pertama, komposisi musik seriosa, yang konon "meniru" lieder-nya tokoh musik zaman klasik, Franz Schubert, antara musik dan syairnya menyatu padu. Dari intro sampai ekstro, digubah sebagai sebuah kesatuan. Interlude dipasang dengan sengaja, terencana, dan ada maknanya.
Kita mengenal tokoh-tokoh penggubah musik seriosa hanya beberapa gelintir. Bisa kita sebut, Cornel Simanjuntak, Binsar Sitompul, Mochtar Embut, AJ Soedjasmin, dan yang baru saja "surut", meninggal dunia, FX Soetopo. Lepas dari itu, bisa dibilang tak ada lagi generasi penerus dalam dunia penciptaan musik seriosa. Dengan penuh harap, kita menunggu hadirnya komponis musik seriosa.
Kalau kita menyimak musik seriosa, tampaklah umumnya, pemusik bekerja sama dengan penyair. Penyair-penyair yang karyanya "dicomot" untuk dijadikan nyanyian seriosa cukup banyak. Di antaranya: Sanusi Pane, Usmar Ismail, JE Tatengkeng, Chairil Anwar, dan WS Rendra. Mengapa begitu. Mungkin para pemusik "tahu diri" bahwa lahannya berbeda. Namun, mereka bisa bekerja sama.
Dan yang pasti, syair garapan penyair
andal pasti terjamin kualitasnya. Memang ada komponis yang sekaligus membuat
musik dan liriknya. Lalu mengalunlah, Aku, Cintaku Jauh di Pulau, Citra, Dewi
Anggreini, dan Embun, menjadi wakil nomor andalan musik seriosa. Umumnya, tanda
ekspresi, tempo, dan dinamika sudah lengkap tertulis dalam partitur. Ini
memudahkan penyanyi menginterpretasikan musik seriosa.
Teknik pembawaannya pun tidak gampang.
Misalnya dari segi pernapasan, musik seriosa menuntut pernapasan diafragma. Tak
ketinggalan, teknik produksi suara yang khas. Misalnya, adanya vibrato yang
tidak mengeruhkan kejelasan ucapan (artikulasi). Soal resonansi (penggemaan
suara) dan sonoritas pun menjadi poin tersendiri dari musik seriosa. Simaklah
ketika Pavarotti beraksi dengan suara emasnya.
Belum lagi tingkat kesulitan dalam hal interval, pitch (tinggi nada), dan durasi. Umumnya musik seriosa menurut istilah awam, notnya banyak yang salah. Karena (kalau ditulis dengan not angka) menggunakan garis yang menerjang not. Atau nada-nada kromatis.
Dari segi durasi, nilai nada, tak jarang musik seriosa menghadirkan not yang rengket, rapat, not sepertiga puluh dua. Misalnya, satu ketukan dipakai untuk empat atau lebih not. Belum lagi triol kecil dan triol besar. Semuanya menuntut keterampilan yang tinggi untuk dapat dengan cermat membunyikannya.
Mungkin itulah penyebab sedikit orang yang melirik ke musik seriosa. Bisa dibilang, penyanyi seriosa di negeri ini dapat dihitung dengan jari. Taruhlah nama-nama Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, dan Linda Sitinjak.
Belum lagi tingkat kesulitan dalam hal interval, pitch (tinggi nada), dan durasi. Umumnya musik seriosa menurut istilah awam, notnya banyak yang salah. Karena (kalau ditulis dengan not angka) menggunakan garis yang menerjang not. Atau nada-nada kromatis.
Dari segi durasi, nilai nada, tak jarang musik seriosa menghadirkan not yang rengket, rapat, not sepertiga puluh dua. Misalnya, satu ketukan dipakai untuk empat atau lebih not. Belum lagi triol kecil dan triol besar. Semuanya menuntut keterampilan yang tinggi untuk dapat dengan cermat membunyikannya.
Mungkin itulah penyebab sedikit orang yang melirik ke musik seriosa. Bisa dibilang, penyanyi seriosa di negeri ini dapat dihitung dengan jari. Taruhlah nama-nama Christopher Abimanyu, Aning Katamsi, dan Linda Sitinjak.
Pranajaya dan Pranawengrum
memang pernah menjadi Maestro dan diva musik seriosa Indonesia. Walaupun sama-sama
mempunyai nama yang berawalan Prana, mereka tidak adahubungan keluarga.
Pranajaya bernama asli Pranowo, sedangkan Pranajaya adalah nama artisnya.
Setelah Pranajaya memenangkan sayembara Bintang Radio, Bung Karno, Presiden RI pada
masa itu menghadiahkan bea siswa untuk memperdalam seni musik di luar negeri.
Kalaupara Bintang-Bintang Radio sebelumnya memilih untuk memperdalam ilmunya
diKonservatorium Musik di Vienna atau Roma, Pranajaya memilih untuk belajar ke
Jepang padatahun 1963.
Pada 1980-an lagu seriosa sering
diperdengarkan di Televisi Republik Indonesia (TVRI), satu-satunya televisi
masa itu. Kini, seriosa nyaris tidak ada lagi. Tidak dapat tempat di televisi
atau radio. Mungkin
karena
saat ini penyanyi bergenre klasik jumlahnya
sedikit juga peminatnya sedikit,
pembawaan lagu seriosa yang serius dan monoton membuat jenuh penonton, karena
saat ini musik bergenre baru bermunculan lebih enerjik dipadukan dengan warna
kostum dan tarian beraneka ragam juga didukung suasana panggung dan sound yang
menarik, berbeda dengan seriosa yang kebanyakan bernuansa serius baik setting
panggung maupun kostum dan make up penyanyi yang bergaya klasik. Dengan
demikian acara musik seriosa di televisi maupun radio tak ada lagi, kalaupun
ada penyanyi seriosa tampil di televisi maupun radio ia akan menyanyikan lagu
pop yang dibawakan degan ciri khas suara mereka yang bergenre seriosa, jarang
yang mau tampil tetap dengan lagu seriosa karena penggemar yang bukan fanatik
akan bosan dengan lagu lagu yang dibawakannya apalagi dimata orang orang awam
yang tidak tahu jenis jenis musik, yang juga beranggapan bahwa musik itu adalah
yang membuat dirinya asyik saja. Seriosa di Indonesia hanya ditampilkan saat
kebaktian di gereja, jika ditampilkan di televisi penyanyi seriosa di Indonesia
akan bernyanyi saat malam natal saja, jarang stasiun televisi menapilkan
penyanyi klasik dalam sebuah acara musik.
Banyak juga yang tidak mengerti bahasa atau
maksud dari lagu yang disampaikan penyanyi seriosa, mungkin karena bahasa itali
kurang dimengerti masyarakat indonesia juga artikulasi dalam pembawaan lagu
sering kali tak dapat didengar jelas, nada nadanya tinggi, mellow dan pembawaannya
juga serius. Banyak yang bertanya itu lagu pujaan, gembira, atau sedih? Karena
bagaimanapun isi lagunya, seriosa kebanyakan bernuansa mellow. Misal, saat ini
penyanyi seriosa muda, Putri Ayu Silaen, Vania Larissa, Boy Sopranos. Mereka
tampil ditelevisi tak sesering penyanyi pop, karena memang seriosa di Indonesia
kurang diminati pemirsa, entah apapun alasannya. Adapun Gita Gutawa yang
bersuara Sopran, ia memilih mendalami genre pop. Tetapi bagaimanapun genrenya,
musik seriosa adalah tata cara bernyanyi yang paling baik dan benar, dari segi
pernafasan, power, intonasi, vibrasi, juga pencapaian nada tinggi. Banyak
penyanyi ditelevisi yang bergenre Jazz, RnB, Pop,dll. yang seenaknya saja
mengambil nafas saat bernyanyi tanpa memperdulikan diksi kalimat, mereka hanya
beranggapan asalkan nadanya benar dan enak dinikmati pemirsa, mereka tidak
memperdulikan tehnik bernyanyi. Banyak juga penyanyi yang terkesan mendesah
saat bernyanyi karena ia tidak tahu trik saat mengambil nafas ketika bernyanyi.
Bahkan penyanyi saat ini sangat mudah menjajaki dunia huburan, banyak penyanyi
pendatang baru yang kwalitas bernyanyinya baik juga banyak pula yang
kwalitasnya buruk, misalnya lypsing saat bernyanyi. Dunia hiburan musik saat
ini jauh berbeda dengan 20 tahun yang lalu dimana penyanyi dapat menjajaki
dunia hiburan dengan cara analog dan benar benar dengan kwalitas suara yang
baik.
Jadi, Seriosa dan musik jenis lainnya pun mempunyai kelebihan dan
kekurangan, hanya saja musik seriosa di Indonesia kurang peminatnya. Pemirsa
kurang berantusias dalam acara musik seriosa, justru musik
genre baru yang yang menjadi acuan pemisa.
0 komentar:
Posting Komentar